KHUTBAH

Etika Menyambut Hari Jumat yang Mulia

 

ilustrasi

Oleh: Muhammad Nur Hayid

 

Tulisan ini akan disampaikan hal-hal yang direkomendasikan oleh Imam Al-Ghazali untuk kita lakukan dalam hari Jumat. Dia memulai dengan menyamakan persepsi, bahwa hari Jumat adalah sayyidul ayyam (raja dari hari-hari lain) dan ‘idul mu’minin (hari raya bagi orang yang beriman) untuk orang Islam. Di dalam hari Jumat Ada waktu khusus yang dirahasiakan, yang mana ada muslim meminta sesuatu pada Allah di waktu spesial itu, Allah pasti akan mengabulkan permintaannya.

Bagaimana kita bisa mendapatkan waktu itu? Mengingat waktu itu dirahasiakan oleh Allah, maka itu bisa kita lakukan adalah amal-amal shaleh selama hari Jumat, bahkan sejak Kamis petang.

Dalam beberapa pernyataan, hari Kamis petang (atau yang dapat disebut malam Jumat oleh orang Indonesia) memiliki keutamaan yang sama dengan hari Jumat. Oleh karena itu, kita bisa mulai memperbanyak tasbih , istighfar , dan melakukan dzikir lain sejak waktu tersebut. Masih dalam rangkaian memuliakan hari Jumat dan berusaha mendapatkan waktu spesial tadi, kita disponsori untuk berpuasa pada hari Jumat. Namun, karena ada hadits yang disampaikan larangan berpuasa hanya pada hari Jumat, maka kita bisa menambahkan puasa pada hari sebelumnya (Kamis) atau setelahnya (Sabtu). Akan lebih baik lagi jika kita berpuasa di tiga hari tersebut; Kamis, Jumat, dan Sabtu.

Hal lain yang juga diharapkan oleh Imam Al-Ghazali untuk kita lakukan adalah menyambut hari Jumat dengan membersihkan diri. Dia menambahkan bahwa baju putih adalah baju yang paling disukai oleh Allah. Terlebih jika kita menggunakan wewangian dan melakukan berbagai cara membersihkan diri; mencukur rambut, memotong kuku, bersiwak, dan berbaring sebagainya. Setelah memantaskan diri kita secara fisik, kita juga diminta untuk bangkit menuju masjid dalam damai.

Untuk mengingat poin ini dia menyampaikan sebuah hadis yang dibacakan sabda Rasulullah SAW: “Siapapun yang akan datang shalat Jumat di waktu yang pertama, ia akan ditampilkan sebagai berkurban unta.” Jika di waktu yang kedua, ia berkurban sapi. Jika di waktu ketiga, ia berkurban kambing. Jika di waktu Empat, ia berkurban ayam. Jika waktu berlalu, ia suka bersedekah telur. Setelah itu, saat imam berjalan menuju mimbar, malaikat akan menutup buku dan menarik alat tulis mereka, untuk kemudian duduk di dekat mimbar dan mendengarkan dzikir ”. Seorang ulama bahkan mengatakan bahwa jauh-kompilasi seseorang melihat Allah di surga nanti ditentukan oleh lolos tidaknya ia untuk mendatangi shalat Jumat.

Tidak cukup pada poin ini, Imam al-Ghazali juga memberikan penjelasan tentang cara memilih tempat duduk dan melewati orang yang telah duduk di masjid terlebih dahulu. Dia menganjurkan untuk memillih tempat duduk yang tidak menjadi tempat lalu lalang jama’ah. Ini terkait dengan anjuran beliau agar orang baru datang tidak melewati leher kompilasi harus melewati orang lain untuk mencari tempat duduk.

Setelah mendapatkan tempat duduk yang layak, kita berharap untuk shalat tahiyyatal masjid , empat rakaat. Apakah beliau memberikan anjuran tentang surat yang diberikan dibaca di setiap rakaatnya? Dia malah memberi tiga pilihan. Pilihan pertama adalah membaca surat Al-Ikhlas lima puluh (50) kali di setiap rakaat. Anjuran ini berkaitan dengan hadits yang mengatakan “seseorang yang melakukan hal itu (membaca Al-Ikhlas lima puluh kali di setiap raka’at shalat tahiyyatal masjid ) pasti akan melihat atau diperlihatkan jatahnya di surga sebelum ia pergi”.

Pilihan kedua adalah membaca surat Al-An’am, Al-Kahfi, Taha, dan Yasin secara berurutan di raka’at pertama, kedua, versi, dan keempat. Pilihan ketiga adalah Yasin, Alif Lam Mim Sajdah, Ha Mim Dukhan , dan Al-Mulk, juga berurutan. Selain itu, semua surat ini ( Al-Ikhlas, Al-An’am, Al-Kahf, Taha, Yasin, Alif Lam Mim Sajdah, Ha Mim Dukhan, dan Al-Mulk ) juga tersedia untuk dibaca pada malam Jumat.

Hal yang tidak kalah penting untuk disampaikan adalah cara yang baik untuk disampaikan orang lain agar diam saat melaksanakan ibadah Shalat Jumat adalah dengan isyarat. Ini karena hanya dengan mengatakan “diamlah!” Kita telah memutuskan sesuatu dan oleh termasuk orang-orang yang lagha (yang tidak mendapatkan pahala shalat Jumat dengan sempurna).

Setelah selesai shalat, sebelum kita memutuskan satu patah kata pun, kita kembali untuk membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq , dan Al-Nas masing-masing tujuh kali. Oleh karena itu, orang yang melakukan demikian akan dijaga oleh Allah dari kesempatan untuk melakukan dosa sampai hari Jumat di pekan berikutnya. Kemudian, kita mulai membaca doa: “Allahumma ya ghaniy ya hamid, ya mubdi ‘ya mu’id, ya rahim ya wadud, aghnina bi halalik’ an haramik, wa bi ta’atik ‘an ma’siyatik, wa bi fadlik’ amman siwak “. Setelah itu kita melakukan shalat sunnah dua, empat, atau enam raka’at dengan sekali salam setiap dua raka’at.

Imam al-Ghazali juga mengingatkan agar kita hanya mengikuti kelompok yang bisa memberi tahu kita ilmu yang bermanfa’at. Imam Al-Ghazali memaknai ilmu yang bermanfaat sebagai ilmu yang membuat kita lebih takut pada Allah dan lebih bisa mengurangi ketergantungan pada dunia. Jika ilmu yang ditawarkan pada kita malah membawa kita pada posisi yang berlawanan, maka ketidaktahuan kita akan ilmu yang lebih baik.

Melengkapi semua ini, kita juga dapat mendukung untuk bersedekah semampu kita dan memperbanyak membaca Al Qur’an. Merangkum semuanya, Imam Al-Ghazali menganjurkan kita untuk menjadikan hari Jumat ini hari yang khusus kita dedikasikan untuk akhirat, dengan harapan ia bisa menjadi kaffarah, memperbaiki, kekhilafan kita di hari-hari lain.

Penulis adalah Pengurus LDNU PBNU dan Pengasuh Pesantren Keterampilan Jagakarsa, Jakarta.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/87610/etika-menyambut-hari-jumat-yang-mulia

Saepul Aziz

Tinggalkan Balasan