ASWAJA CENTER

Cinta Tanah Air Perspektif Al-Qur’an

وَإِذْقَالَ إِبْرَاهِيْمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًاوَٱرْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ ٱلثَّمَرَاتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْاٰخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.(Al-Baqarah, 126)

Ayat ini bukan saja mengajarkan agar berdo’a untuk keamanan dan kesejahteraan kota Mekkah saja, tetapi juga mengandung isyarat tentang perlunya setiap Muslim berdo’a untuk keselamatan dan keamanan wilayah tempat tinggalnya, serta agar penduduknya memeroleh rizki yang melimpah. (Tafsir Al-Mishbah(

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوْامِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْهُ إِلَّا قَلِيْلٌ مِنْهُمْ

Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, “bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu, “ternyata mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebgaian kecil dari mereka. Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iaman mereka)”. (QS. An-Nisa : 66)

Firman Allah ini merupakan perintah untuk mencintai tanah air…

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوْامِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْهُ إِلَّا قَلِيْلٌ مِنْهُمْ

Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, “bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu, “ternyata mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebgaian kecil dari mereka. Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iaman mereka). (QS. An-Nisa : 66)

  • Al-Razi menangkap kesan nasionalisme pada ayat ini. Beliau dalam tafsirnya Mafâtîhal-Ghaib menyatakan bahwa Allah swt sengaja mensejajarkan bunuh diri dengan meninggalkan tanah air dengan kata lain berpisah dengan tanah air sebanding dengan berpisahnya ruh dengan jasad. (Fakhr al-Din al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, Juz 10, hlm. 133)
  • Kesan ini ditangkap dan diresapi secara mendalam oleh ulama muda al-Azhar masa kini, Usamah al-Sayyid al-Azharî. Menurutnya, angkat kaki meninggalkan kampung halaman (hijrah)merupakan hal yang sangat berat dilakukan dan butuh kesabaran ekstra. Rasa berat dan sulit ini kadarnya menyamai rasa sakit saat jiwa ini terbunuh. Hal ini menunjukkan hubungan seseorang dan rasa kecintaan terhadap tanah airnya memiliki tempat terdalam di hati. Demikian penjelasannya dalam al-Haqq al-Mubîn fî al-Radd ‘alâ man Talâʻaba bi al-Dîn., 171

إِنَّ ٱلَّذِى فَرَضَ عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لَرَا دُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ

Sesungguhnya Allah yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) al-Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali . (QS: Al-Qashash: 85)

  • وفى تفسير الآية اشارة الى ان حب الو طن من الايمان
  • Pada ayat itu terdapat isyarat bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman… Bahkan Umar bin al-Khatab menekankan

لولا حبّ الوطن لخرب بلد السّوء, فبحبّ الاوطان عمرت البلدان

“Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur suatu negeri-negeri yang terpuruk; maka dengan cinta tanah air negeri-negeri termakmurkan”.

(Ismail Haqqi Musthafa al-Hanafi, Tafasir Ruh al-Bayan, juz ke 4, 3)

Pemsateri : Aj. Yayan Bun Yamin, M.Fil    (Direktur Aswaja Center Tasikmalaya)

 

(Saepul Aziz)

Tinggalkan Balasan