WARTA NU

Pesantren Lahan Kosong Dapat Dimanfaatkan untuk Penggemukan Sapi

Ketua HPN Garut Jawa Barat, Dodi Gustari. (Foto: NU Online / Rahman Ahdori)
Ketua HPN Garut Jawa Barat, Dodi Gustari. (Foto: NU Online / Rahman Ahdori)
Purwakarta, MediaNU
Pesantren-pesantren di Indonesia, biasanya memiliki lahan yang tidak difungsikan. Jika digunakan untuk peternakan, lahan-lahan tersebut akan mendatangkan keuntungan ekonomi.
Ketua HPN Garut Jawa Barat, Dodi Gustari, mengundang pesantren meminta lahan tidur mereka demi berdaya guna melalui pengembangan sapi lokal. Menurutnya, konsep pemberdayaan bisnis adalah bisnis yang dapat diterapkan tepat untuk dan setiap kelompok perlindungan termasuk NU dan pesantren.
“Lahan pertanian produktif yang dimiliki oleh setiap jamaah harus menjadi lahan produktif yang digunakan sebagai pendukung usaha lanjutannya. Artinya, area pertanian yang direkomendasikan harus mendukung industri peternakan yang akan atau sedang dijalankan. “Kami sedang mempersiapkan seminar untuk mengumpulkan dana,” kata Dodi saat mengisi seminar yang diterima Pleno PBNU di Pesantren Al-Muhajirin 2 Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (20/9).
Khusus dalam pembudidayaan sapi lokal, menurut Dodi harus memerhatikan standarisasi kendang dan bibit. Standarisasi kandang harus sesuai dengan ketentuan yang diperuntukan untuk budidaya ternak sapi.
Sementara pemilihan bibit dapat distandarkan pada Pemilihan tergantung pada standar bibit Nasional standar bibit, standar bibit partisipasi yang ada. Juga, bibit dalam kondisi sehat, tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan penyakit, bebas penyakit menular dan penggantian.
Pria yang saat ini mengelola lebih dari 200 ekor sapi mengatakan, pengembangan sapi lokal menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing bangsa. Hal itu perlu karena jika tidak bisa bersaing dengan negara lain, Indonesia akan mundur.
Untuk dapat bersaing dengan negara lain, dimulai dari diri pribadi. Seperti Dodi, berdasarkan pengakuannya, diterbitkan saat pulang dari kebun, bawa rumput untuk ternak. Dari sederhana saja bisa sekolah.
Pola pengembangan pertanian sapi lokal, sejatinya bukan hal yang sulit. Sebab, ada beberapa pilihan pengembangan yang akan diambil oleh pengusaha. Bisa penyiapan bibit sapi (0-4 bulan); penggemukan, atau persiapan Idul Kurban. Untuk menggabung sapi, bukan ganti sapi yang diberi pakan, namun bagiamana meningkatkan bobot sapi.
“Ada formula (Peningkatan bobot sapi) dengan konsentrat atau simulase. Per hari bisa meningkat 1,2 kilo. Jadi kalau kita mau beternak misalnya enam bulan, akan ketahuan bobotnya, ketahuan berapa berat saat panen (dijual), ”kata.
Penggemukan sapi juga tergolong mudah dilakukan, sebab semua bahan baku tersedia di sekitar kita, dari pakan hijau atau rumput, hingga konsentrat.
Dalam pengembangan usaha sapi lokal, pengusaha dapat membuat beberapa pola. Seperti memciptakan pabrik pakan ternak sendiri yang di kelola sepenuhnya oleh perusahaan pelindungan dengan terhmipun sebuah perusahaan, membuat rumah potong hewan (RPH), membuat penyamakan kulit (industri kulit), dan membuat olahan makanan kulit dan daging.
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Fathoni Ahmad
**SA

Tinggalkan Balasan