WARTA NU

MUSLIM MASUK GEREJA DAN BUDAYA BAHSUL MASAIL ALA PESANTREN

 

Images may be subject to copyright

Beberapa minggu lalu jagat dunia maya dihebohkan dengan berbagai postingan cemoohan terhadap sebuah Film berjudul The Santri karya sutradara Hollywood asal Yogyakarta bernama Living Zeng .

Cemoohan terhadap film besutan PBNU tersebut berkenaan dengan sebuah adegan dalam trailer film the Santri yang menggambarkan sekelompok santri yang masuk ke sebuah gereja yang sedang melaksanakan misa dengan membawa tumpeng.

Adegan tersebut mendapatkan tanggapan yang sangat keras dari berbagai pihak, bahkan wakil gubernur Jawa Barat pun sempat mengomentari adegan tersebut dengan mengeluarkan kata-kata ‘Murtad’ walaupun pada akhirnya beliau minta maaf dengan stitmen tersebut.

Yang lebih menghawatirkan lagi masyarakat akar rumput yang tidak tahu apa-apa, bahkan belum pernah menonton trailernya ikut-ikuan mengomentari dan menghujat film yang rencananya akan dirilis bertepatan dengan Hari Santri Nasional 22 Oktober mendatang tersebut.

Saya sempat tergelitik dengan postingan seorang teman lama yang mengunggah kutipan Kitab Nadham Syhadataen yang menerangkan bahwa salahsatu faktor batal syahadat adalah masuk gereja dan dengan PDnya ia membumbui foto tersebut dengan capsion ‘suut ah nu sanes na mah tcan kaelmuan’ seolah fatwa tentang masuk gereja hanya ada dalam kitab tersebut.

Fenomena muslim masuk gereja kembali ramai di media sosial manakala Banser dan Gusdurian Cilacap mempraktekan adegan membawa 9 tumpeng ke Gereja ala film the Santri dalam rangka HUT ke-9 berdirinya Paroki Santa Theresia Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Lagi-lagi saya dibuat geli melihat seorang senior saya di pesantren yang membagikan Vidio kejadian Banser dan Gusdurian masuk Gereja, postingan yang ia bagikan tersebut dibumbui dengan pertanyaan ‘NU KAMI MAU KALIAN BAWA KEMANA??’ seolah-olah apa yang dilakukan Banser dan Gusdurian tersebut sangat dilarang dan jauh dari ajaran NU yang ia anut.

Pertama terkait Film the Santri yang baru tayang trailernya, menurut saya agak berlebihan menilai sebuah film dengan narasi bahwa film tersebut akan menggiring umat muslim pada kemurtadan dengan hanya mengandalkan trailer, ibarat menilai sebuah buku hanya dengan membaca sinopsisnya.

Kedua terkait hukum masuk Gereja, memang sebagian ulama ada yang mengatakan haram, seperti dalam kitab yang dikutip teman lama saya, tapi ketahuilah bahwa hukum tersebut tidak mutlak, karena keterangan terkait hukum masuk Gereja tersebut bukan hanya ada di satu kitab, masih banyak kitab yang menerangkan bolehnya seorang muslim masuk Gereja, bahkan Syaidina Umar bin Khattab dalam peristiwa penaklukan negeri Baitul Maqdis pun pernah masuk Gereja.

Buya Hamka di usia senja pernah ditanya oleh salahsatu muridnya, mengapa beliau ikut membaca kunut ketika sholat subuh, dan ikut tahlilan ketika ada orang yang meninggal, padahal ketika Buya Hamka masih muda, beliau paling keras menentang amalan-amalan orang ‘NU’ tersebut?, Dengan santai dan legowonya Buya Hamka menjawab, “Dulu bacaan kitab saya masih sedikit, sekarang sudah lumayan banyak”, artinya jangan sekali-kali kita merasa paling benar dengan sedikit pemahaman yang kita miliki, karena masih banyak ilmu atau pengetahuan diluar sana yang belum kita ketahui.

Ketiga peristiwa penghukuman murtad atau haram oleh sebagian pihak tehadap adegan Santri masuk Gereja atau kegiatan Banser dan Gusdurian masuk Gereja tanpa melalui proses musyawarah sebagimana tradisi ulama dan pesantren tersebut menggambarkan lemahnya budaya baca dan diskusi di masyarakat luas serta perlunya penguatan budaya bahsul masail ala Pesantren di masyarakat, sehingga masyarakat tidak gampang menghukumi segala sesuatu tanpa melalui proses yang seharusnya.

Terakhir masyarakat harus diberikan pemahaman bahwa ketika seseorang mengaku NU, maka ia harus sejalan dengan PBNU sebagai mandataris Nahdlatul Ulama secara kelembagaan dalam 4 hal, yaitu sejalan dengan PBNU dalam Amalih, Fikroh, Harokah dan Ghiroh sehingga tidak ada lagi fenomena orang mengaku NU tapi tida suka terhadap PBNU dan Ulama-ulama NU. (Wallahu a’lam)

 

Oleh: Budi Alghifari

Tinggalkan Balasan