KAJIAN

Waktu dan Besaran Nafkah Anak Bagi Orang Tua

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Assalamu ‘alaikum wr. wb. Redaksi Bahtsul Masail NU Online , saya ingin bertanya. Ayah saya menambah 65 tahun dan memiliki beberapa anak. Sebagian besar sudah menikah. Selama ayah dan ibu saya hidup cukup dari usaha pensiunan. Tapi ayah saya kadang-kadang masih mengharapkan bantuan finansial dari anak-anak sebagai balas budi untuk orang tua. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Aisyah / Bogor). Jawaban Assalamu ‘alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Allah mengirim manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua. Perintah ini diterima langsung antara lain di dalam Surat Luqman ayat 14-15. Dalam Surat Luqman ayat 14-15, Allah meminta manusia untuk berbakti kepada orang tua dalam segala hal. Manusia diperintahkan untuk membantu orang tua, baik menjalani hidup maupun kompilasi sudah wafat. Karena kebaktian anak terhadap orang tua dalam bentuk nafkah terdiri dari makanan pokok diharuskan anak itu mampu membantu orang tuanya. وإنما تجب نفقة الوالدين بشروط منها يسار الولد والموسر من فضل عن قوته وقوت عياله في يومه وليلته ما يصرفه إليهما فإن لم يفضل فلا شيء عليه لإعساره Artinya, “Orang tua tua harus dinafkahi oleh belakang dengan persyaratan di antara kelapangan rezeki anak yang diinginkan. Batasan kelapangan rezeki adalah mereka yang memiliki kelebihan harta setelah membeli makanan pokok dan anak-anak yang dibicarakan sehari-hari di mana kelebihan itu bisa diberikan kepada orang tuanya. Jika anak tidak memiliki kelebihan harta, maka ia tidak memiliki kewajiban tambahan atas nafkah kedua orang tuanya lantaran kesempitan rezeki yang didukung, ”(Lihat Taqiyudin Abu Bakar Al-Hushni, Kifayatul Akhyar , Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2001 M / 1422 H , halaman 577). Meski demikian, tidak setiap orang tua membutuhkan bantuan. Orang tua yang berhak menerima bantuan nafkah dari anak yang mereka terima dua syarat mustahik nafkah. فأما الوالدون فتجب نفقتهم) على الفروع (بشرطين) أي بأحد شرطين (الفقر والزمانة) وهي بفتح الزاي الابتلاء والعاهة (أو الفقر والجنون) لتحقق الاحتياج حينئذ فلا تجب للفقراء الأصحاء, ولا للفقراء العقلاء, إن كانوا ذوي كسب لأن القدرة بالكسب كالقدرة بالمال فإن لم يَكُونُوا ذَوِي كَسْبٍ وَجَبَتْ نَفَقَتُهُمْ عَلَى الْفُرُوعِ. عَلَى الْأَظْهَرِ فِي الرَّوْضَةِ. وَزَوَائِدِ الْمِنْهَاجِ. لِأَنَّ الْفَرْعَ مَأْمُورٌ بِمُعَاشَرَةِ أَهْلِهِ بِالْمَعْرُوفِ وَلَيْسَ مِنْهَا َ َ َ ِّ ُ ِّ ِّ ِّ ِّ ِّ ِّ ْ Terkait, “(orang tua wajib dinafkahi) oleh pihaknya (dengan dua syarat) atau salah satunya, yaitu (pertama) kefakiran dan penyakit kronis) tertimpa musibah atau bencana [yang dilanggar dengan bantuan], ([ke depan] kefakiran dan kegilaan ) karena real hajat mereka kompilasi itu. Dari sini anak-dewasanya tidak wajib menafkahi orang tua yang fakir dan sehat; atau fakir dan waras karena mereka memiliki usaha / pekerjaan karena kemampuan yang diperlukan / bekerja sesuai dengan potensi memiliki harta. Jika mereka tidak memiliki usaha, anak-anak mereka wajib menafkahinya, menurut pendapat lebih zhahir di Raudhah dan tambahan di Minhaj. Anak-anak diperintahkan bergaul dengan orang tua. Bukan termasuk kategori pergaulan baik jika anak-anak menerima orang tua yang sudah renta / kakek-nenekAl-Iqna ‘pada Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib , Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1996 M / 1417 H, juz IV, halaman 439-440). Sepenuhnya orang tua yang berhak menerima makanan yang tidak kaya, tidak sehat, dan tidak waras. الْفَقْر وَالزَّمَانَة) فالزمن الغني او الفقير القوي لا تجب نفقته (أَوْ الْفَقْر وَالْجُنُون) Artinya, “[orang tua wajib dinafkahi berkuasa dengan dua syarat atau salah satunya, yaitu (pertama kefakiran dan penyakit kronis) penderita penyakit kronis yang kaya atau orang fakir yang sehat-gagah tidak wajib dinafkahi, (atau kedua kefakiran dan kegilaan), orang Gila yang kaya atau orang fakir yang waras tidak wajib dinafkahi, ”(Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib , Situbondo, Al-Maktabah Al-As’adiyah, cetakan pertama, 2014 M / 1434 H, halaman 169). Namun, manusia tetap diharuskan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya sesuai dengan kebutuhan keuangannya, tidak perlu memaksakan diri dengan rutinitas tertentu. ونفقة القريب لا تقدر, بل هي بقدر الكفاية وتختلف بالكبر والصغر والزهادة والرغبة … فلو ترك الإنفاق على قريبه حتى مضى زمان لم تصر دينا سواء تعدى أم لا لأنها شرعت على سبيل المواساة بخلاف نفقة الزوج لأنها عوض والله أعلم Terkait, “Nafkah untuk kerabat (baik usul yaitu ayah-ibu dan kakek-nenek ke atas maupun furu ‘yaitu anak-cucu ke bawah) tidak sesuai peraturannya, tetapi sewajarnya. Untuk orang yang berbeda ukuran sesuai dengan orang dewasa atau di bawah orang dewasa, kezuhudan atau kekurangzuhudannya … Jika seseorang tidak menafkahi kerabatnya lebih dari dua kali lipat dengan baik karena kelalaian atau tidak, maka tidak dapat dihitung karena nafkah kerabat disyariatkan untuk dapat dilihat, nafkah istri karena nafkah istri merupakan semacam ketidakseimbangan. Wallahu a’lam, ”(Lihat Taqiyudin Abu Bakar Al-Hushni, Kifayatul Akhyar , Beirut, Darul Fikr, 1994 M / 1414 H, juz II, juz II, halaman 115). Melihat kebutuhan orang tua seperti deskripsi pada pertanyaan di atas, dapat membantah anak-anak tidak perlu menafkahi kedua orang tuanya. Namun, tentu saja, anak-anak yang setuju untuk memperlakukan kedua orang tua dengan baik dan sedikit membantu orang kedua, sesuai dengan kebutuhan keuangan. Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dibahas dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca. Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq, Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

( Alhafiz Kurniawan )

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/79470/waktu-dan-besaran-nafkah-anak-kepada-orang-tua

Tinggalkan Balasan