WARTA NU

PERBEDAAN DAN KERAGAMAN ADALAH KENISCAYAAN

Foto bersama para ketua ormas islam kab. tasikmalaya, ketua MUI dan Bupati Tasikmalaya
Foto bersama para ketua ormas islam kab. tasikmalaya, ketua MUI dan Bupati Tasikmalaya

MediaNU, Hari ini Rabu 25 Desember 2019 Forum Ormas Islam se Kabupaten Tasikmalaya menggelar kegiatan bersama di Mesjid Agung Baiturrahim Bojongkoneng Singaparna.

Para pengurus ormas Islam tingkat Kabupaten Tasikmalaya seperti NU, Muhammadiyah, Persis, PUI dan FPI berikut jamaahnya memenuhi Mesjid Agung tasik semenjak pagi. Banser, Kokam dan Satgas FPI juga bekerja sama mengamankan dan mengatur jalannya acara.

Menurut Ketua Panitia penyelenggara kegiatan KH Atam Rustam yang juga Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Kegiatan ini merupakan insiatif bersama ormas-ormas Islam yang ada di Kabupaten Tasikmalaya. Dalam rangka membangun ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan menjaga dan membangun ummat. Agar tidak terjadi saling curiga, pertentangan dan membentengi dari sebaran fitnah dan hoax yang mengganggu persaudaraan kita antar ormas.

Kegiatan ini lanjut KH. Atam akan terus digelar secara rutin untuk menjaga Kabupaten Tasikmalaya agar senantiasa kondusif aman damai dan nyaman. Terlebih kegiatan ini juga dihadiri oleh Forkopimda Kab. Tasikmalaya. Bupati, DPRD, Kapolres dan Dandim 0612 . “Kita bahagia dan reugreug dengan kompaknya ormas dan kehadiran para pemimpin pemerintahan yang ada” ungkap KH. Atam.

Sementara itu Ketua MUI Kabupaten Tasikmalaya dalam Mauidhah Hasanahnya mengyampaikan, bahwa Alhamdulillah Ormas Islam sedang menemukan cinta di Tasikmalaya

Menurut KH Ii Abd Basith, Islam sangat menganjurkan untuk melakukan komunikasi diantara kita. Dengan orang yang baik dan dengan orang yang tidak berbuat jahat pada kita.
Dalam rangka membumikan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran islam. Mari kita bunyikan di kabupaten tasikmalaya ini. Melalui cerminan sikap penuh Kasih sayang dan saling memaafkan, bukan kebencian dan saling tuduh. Jangan terbawa perasaan yg mengusik prasangka. Ijtanibu katsiran minan dzhanni. Jauhi dari sikap banyaj prasangka.

Kita tidak boleh menyangka jelek terhadap orang lain. Kita juga jangan memposisikan diri sebagai orang yang pantas di anggap jelek oleh orang lain. Rasulullah sangat menghindari prasangka buruk dr sahabt2nya ungkap sesepuh Ponpes Sukahideng ini.

Ditambahkan KH Ii Abdul Basith, bahwa Syetan dan Iblis hanyalah ingin menumbuhkan rasa kebencian dan permusuhan diantara kalian. Apapun yg bisa mengusik kebemcian dan permusuhan harus dihindari.

Masalah perbedaan dan keragamaan adalah keniscayaan. Allah berfirman “Lausyaa Allah laja’alnakum ummatan wahidah“. Seandainya Allah berkehendak menjadikan kalian ummat yg satu. Akan Tetapi Allah menjadikan ummat ini berbeda-beda

Perbedaan bisa menjadi potensi untuk perpecahan dan konflik. Satu sisi bisa menimbulkan persatuan dan keindahan keharmonisan kerukunan dan kedamaian. Wakhtilafii laili wannahaar…wakhtilafi alwanikum wa alsinatikum...dll

Islam tidak alergi terhadap perbedaan. Rosul sejak dini menutup celah-celah perbedaan tsb menjadi konflik.
Kh Ii Abdul Basith menegaskan bahwa Ormas manapun harus menjaga baik ucapan ataupun tindakan. “Betah keneh ngajaga rasa cinta atawa rasa kakeuheul.?”

Memupuk diri dengan rasa persaudaraan lebih enak dripada memupuk diri dengan rasa bermusuhan. Mengotori perasaan dengan kebencian. Dengan permusuhan.
Hal adulluka ala sajarotin yadulluka ala mulki..rayuan ambisi kekuasaan dan ambisi dr iblis..
Yg bisa merontokan kebersamaan adalah ambisi kelompok dan inters pribadi.

Kalau kita ingin memperbaiki hubungan dg sesama manusia. Perbaiki hubungan dg Alloh.
Bagaimana caranya? Tempatkan diri pada tempatnya. Tempatkan Allah pada tempatnya. Jangan jadi rival Alloh. Jangan jadi mitra/partner Alloh. Wlam yakun lahu syarikun fil mulki walam yakun lahu waliyyun minaddulli wakabbirhu takbiraa….
Sombong takabur, riya, iri dan dengki serta merasa diri paling benar adalah sesuatu yg menunjukan kita bersikap sebagai rival atau merasa sebagai mitranya Allah SWT. Padahal seharusnya kita memahami keadaan diri kita yang hanya seorang Hamba. yang tak punya daya dan kekuatan. Saat manusia mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya. (Usman Kusmana, Ketua LTN NU Kab. Tasikmalaya)

Editor : Saepul Aziz

Tinggalkan Balasan