SEJARAH BERDIRINYA NAHDLATUL ULAMA DI TASIKMALAYA

KH. Muhammad Rizqi Romdhon, Wakil Katib Syuriah PCNU Kab. Tasikmalaya
KH. Muhammad Rizqi Romdhon, Wakil Katib Syuriah PCNU Kab. Tasikmalaya

Oleh: Muhammad Rizqi Romdhon [ii]

Awal mula semangat pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di Tasikmalaya adalah datangnya salah seorang PBNU ke Tasikmalaya yaitu KH Abdullah Ubaid untuk berpidato di Masjid Agung Tasikmalaya. Ketika itu beliau membahas qadliyah kebijakan kolonial Belanda terkait suntik mayat. Dalam pidatonya di masjid tersebut beliau memfatwakan bahwa suntik mayat merupakan hal yang haram. Pidato ini mendapat aplus dan sambutan hangat dari para hadirin, polisi kolonial hampir saja menurunkan penceramah kalau tidak diteruskan dengan kalimat “kecuali kalau sangat dibutuhkan”. Peristiwa ini memberi inspirasi kepada para ajengan di Tasikmalaya untuk ikut bergabung dengan Nahdlatul Ulama.

Selain peristiwa itu pula, NU telah masuk ke Tasikmalaya sekitar tahun 1928 yang dibawa oleh KH Fadlil asal Cikotok Parigi[iii] yang kemudian menetap di Nagarawangi. Kehadiran NU di Tasikmalaya mendapat sambutan dari kalangan pesantren, karena secara kultural antara NU dan pesantren sangat erat hubungannya. Lalu bergabunglah para Ajengan Tasikmalaya dengan NU seperti KH. O. Qolyubi Pasantren Madewangi Tamansari, KH. Syabandi Pasantren Cilenga, KH. Dahlan Pasantren Cicarulang, KH. Roehiat Pasantren Cipasung, KH. Yahya Pasantren Madiapada, KH. Samsoedin Pasantren Gegernoong, KH. Zainal Mustofa Pasantren Sukamanah dan Kyai lainnya.[iv]

Pendirian NU secara legal formal di Tasikmalaya bermula dari rapat di kediaman KH M. Fadlil atau kediaman KH. Dimyati Nagarawangi. Dalam rapat tersebut diputuskan bahwa Rais Syuriah NU Tasikmalaya oleh KH. M. Fadlil Pasantren Cikotok dan Ketua Tanfidzy oleh KH. Dasuki. Namun kebangkitan NU di Tasikmalaya mendapat tentangan dari pihak kolonial Belanda terutama dari Perkoempoelan Goeroe Ngaji[v] yang didirikan oleh Kolonial Belanda.

Bahkan Kanjeng Dalem pernah menanyakan perihal pendirian NU di Tasikmalaya ini kepada Agan Aon Pasantren Mangunreja pada tahun 1927. Lalu setelah itu Agan Aon berpidato di hadapan santri-santrinya termasuk KH. Saidili Pasantren Cipanengah Tawang Banteng; “Barudak, Kaula tos kadongkapan Kanjeng Dalem ti Tasik. Saur Anjeuna kiwari aya dua perkumpulan anyar, nu hiji di kulon[vi], nu hiji deui di wetan, nyaeta NO (Nahdlatoel Oelama/Nahdlatul Ulama. pen). Kula (yaitu Agan Aon. Pen) nyarek moal nitah moal, jeung asana nu bakal lana mah NO nu ti wetan. Kieu we pamanggih kaula, mun rek asup kadinya baca: Rabbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj’alli min ladunka sulthanan nashiran, tilu balik bari 3 ramo leungeun katuhu dempet ku kelek kenca. Mun hate loyog pek asup kadinya, mun hate teu loyog nya ulah”[vii].

Tidak cukup dengan itu, NU terus ditekan oleh penguasa karena dianggap menyaingi Idzhar. Malah bukan hanya NU, pengajian “Godebag” yang dipimpin oleh KH. Mubarok Pasantren Suryalaya pun dibubarkan. Untuk mengatasi hal tersebut KH. M.  Fadlil terus melakukan konsolidasi baik dengan musyawarah dengan para Ajengan, ataupun dengan penambahan pengurus-pengurus baru. Salah satunya dengan menunjuk Juragan Ahmad menjadi Ketua PC NU Tasikmalaya. Namun hal ini pun tidak mengurangi tekanan dari penguasa yang menyebabkan pembubaran kepengurusan yang dipimpin oleh Juragan Ahmad.

Lalu setelah itu para Ajengan NU Tasikmalaya yang dipimpin KH. M. Fadlil mendatangi Juragan Soetisna Senjaya[viii] untuk ditawari menjadi Ketua NU Tasikmalaya. Juragan Soetsen menjawab: “Piraku Ketua NU Simkuring? Jalma baragajul!”[ix]. Namun semua Ajengan sepakat bahwa beliau orang yang paling cakap untuk menjadi Ketua NU Tasikmalaya.

Pada tahun 1932 diselenggarakan Rapat NU di HIS Pasundan II di Jajaway Jl. Dewi Sartika. Pada rapat tersebut diputuskan bahwa yang menjadi Rois Syuriah adalah KH. Syabandi Pasantren CIlenga, dan Juragan Soetsen menjadi Ketua PC NU, dengan syarat agar KH. O. Hoelaemi (Pak Emi) diangkat menjadi sekretarisnya. Diputuskan pula H. Masduki sebagai Wakil Ketua dan Tabi’i sebagai Wakil Sekretaris. Sedangkan KH. Zaenal Mustafa Pasantren Sukamanah menjadi Wakil Syuriah NU.

Di bawah kepemimpinan Soetsen NU Tasikmalaya bisa maju pesat, berkat keintelekan Soetsen disandingkan dengan keulamaan Pak Emi. Salah satunya keberhasilannya adalah menerbitkan majalah mingguan Al-Mawa’idz yang bisa menandingi majalah Al-Imtisal milik Perkoempoelan Goeroe Ngaji. Pembaca Al-Mawa’idz tersebar bukan hanya di Tasikmalaya saja, namun menjangkau daerah lain. Bahkan di dalam Majalah tersebut di cantumkan kalimat “Loear Indonesia (Timpah) f 2,-” mungkin sampai ke luar negeri.

Pesatnya Al-Mawa’idz dikarenakan hal berikut ini:

  1. Pengalaman jurnalistik Soetsen sebagai pengasuh Soerat Kabar Sipatahoenan milik Pagoeyoeban Pasoendan Cabang Tasikmalaya mulai dari 1924-1942.
  2. Tekanan dari ulama Idzhar yang di bantu oleh penguasa Kolonial Belanda.
  3. Pengorbanan dan keikhlasan para pengelolanya.

Pada awal mulanya kantor NU menyewa gedung di sebelah timur rel kereta api, sebelah utara Jajaway. Kemudian pindah ke Cipedes di lingkungan yang dipenuhi oleh anggota Al-Ittihad Al-Islamiyyah. Walaupun belum memiliki kantor yang permanen, namun kegiatan NU Tasikmalaya berjalan dengan lancar. Pada Kongres NU ke 10 di Solo pada tanggal 14-19 April 1935/10-15 Muharam 1354, NU Tasikmalaya mengirimkan tiga utusannya dan melaporkan bahwa NU Tasikmalaya telah memiliki Zakat Comite yang belum dimiliki oleh Cabang NU manapun.

Pada masa kepenguruan Pak Emi, NU Tasikmalaya bisa mempunyai kantor permanen di Jl. dr. Sukarjo. Kantor tersebut dibeli dari H. Fakih yang menginginkan agar gedung societat miliknya tidak dipakai maksiat, maka gedung tersebut ditawarkan kepada NU Tasikmalaya melalui H. Azhari senilai f 4.500,-.

NU Tasikmalaya mencicil uang pembayaran gedung tersebut kepada H. Azhari tanpa terikat waktu dan besar cicilannya. Uang cicilan tersebut didapatkan dari perelek pengajian mingguan, dari 15 ketif sampai f 3,- dengan cara ngiderkeun kopiah. Setelah uang cicilan mencapai f 2000,- lebih, H. Azhari berucap: “keun we sesanamah, tong dilunasan sadayana, itung-itung wakaf ulama. Bade milik NU mangga.[x]


[i] Ringkasan dari salah satu bab dalam buku Nahdlatul Ulama di Tengah-tengah Perjuangan Bangsa Indonesia Jilid 1 Cetakan Kedua yang disusun oleh Drs. H.A.E Bunyamin (Ketua PCNU Kab. Tasikmalaya Masa Khidmat 1995-2000) yang diterbitkan oleh PC Nahdlatul Ulama Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2000

[ii] Santri Cipasung nu Pangbengalna

[iii] Pada tahun 1933 Pamarican, Parigi dan Cijulang masih termasuk daerah Tasikmalaya. baca juga https://medianu.or.id/2020/06/26/kh-fadil-dan-kh-oenoeng-pendiri-nu-tasikmalaya/

[iv] Sebagian ajengan tersebut belum memiliki titel Kyai pada masa itu sebagaimana tercantum dalam buletin Al-Mawa’idz No. 7 Tahun 1933

[v] Perkoempoelan Goeroe Ngaji didirkan oleh Bupati Kanjeng Dalem Tasikmalaya R.A.A Wiratuningrat bersama Penghulu pada tanggal 15 Juni 1926. Upacara peresmiannya dihadiri oleh Camat Tasikmalaya Camat Indihiang dan Camat Kawalu. Salah satu anggotanya adalah KH. M. Soedjai Pasantren Kudang, KH. M. Djarkasyi Pasantren Jajaway, KH. M. Pachroerodji Pasantren Sukalaya dan KH. M. Fachroedin Pasantren CIkalang. Perkumpulan ini menerbitkan Majalah Al-Imtisal satu bulan dua kali.

Perkumpulan ini mendukung kebijakan Kolonial dimana sebagian umat Islam dan Ajengan Tasikmalaya kurang simpati terhadap Penghulu dan Perkumpulan ini. Perkumpulan ini oleh Ajengan-ajengan Tasikmalaya lainnya dijuluki dengan Ulama Idzhar “Idzharu Bay’atil Muluk wal Umara”.

[vi] Yang dimaksud di Kulon (di Barat) oleh Agan Aon adalah Al-Ittihad Al-Islamiyyah (AII) yang didirikan oleh KH. A. Sanusi (Ajengan Genteng) Pesantren Cantayan Sukabumi. AII dibubarkan oleh Penjajah Jepang. Lalu pada tahun 1952 bersama KH. Abdul Halim pendiri Persyarikatan Umat Islam, KH. A. Sanusi sepakat untuk menyatukan kedua organisasi mereka menjadi Persatuan Umat Islam (PUI).

[vii] Artinya: “Anak-anak, saya telah didatangi oleh Kanjeng Dalem dari Tasik. Beliau mengemukakan bahwa pada saat ini terdapat dua organisasi baru, satu ada di barat, satu lagi ada di timur yaitu NU. Saya (yaitu Agan Aon) tidak akan marah, tidak akan menyuruh. Namun rasanya yang akan maju adalah NU yang dari timur. Ini saja pendapat saya. Apabila ingin masuk ke NU, baca: Rabbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj’alli min ladunka sulthanan nashiran, 3 kali sambil menjepit 3 jari tangan kanan dalam ketiak kiri. Apabila hati menyetujui silahkan masuk ke NU, apabila hati tidak menyetujui ya jangan masuk.”

[viii] Raden Soetisna Senjaya atau biasa dikenal dengan Soetsen adalah salah satu tokoh Paguyuban Pasundan, guru HIS (Hollandsch Inlandsche School) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewijs). Dalam majalah Lalayang Domas tanggal 13 Agustus 1927 dikemukanan dalam artikel berjudul “Welvaart van land en volk” bahwa Paguyuban Pasundan didirikan untuk mengembangkan Islam dan memperluas pendidikan. Pemuka-pemuka Paguyuban Pasundan adalah orang-orang Islam yang memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap kemajuan agamanya.

[ix] Artinya: “Mengapa saya menjadi Ketua NU? Saya adalah orang yang tidak baik!”

[x] Artinya: “Biarlah sisanya, tidak perlu dilunasi semuanya, anggap saja wakaf untuk ulama, mau dimiliki NU juga tidak apa-apa.”

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: