IDEOLOGI PASANTREN CIPASUNG

(Refleksi dari Biografi alm. KH. Ruhiat Pendiri Pondok Pesantren Cipasung)

Oleh: KH. Muhammad Rizqi Romdhon[1]

Bismillah, walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah ‘amma ba’du. Dalam rangka menyambut Haul alm. KH. Ruhiat Pendiri Pondok Pesantren Cipasung yang ke 44, kami ingin berpartisipasi dengan mempersembahkan sebuah curat-coret yang merupakan kegelisahan hati kami atas hilangnya identitas dan jatidiri pada beberapa santri dan alumni Cipasung. Beberapa santri dan alumni Cipasung seakan-akan tidak mengamalkan ruh dari inti pengajaran dan pendidikan yang diajarkan oleh Cipasung. Oleh karena itu dengan adanya tulisan ini semoga bisa menjadi pengingat bagi mereka, bahwa inilah yang diajarkan oleh Cipasung. Tidak bermaksud mengajari, hanya mendongengkan kembali kisah Abah Ajengan, agar bisa mengenang kembali perjuangan beliau. Hanya kepada Allahlah kami berpegang, wa huwa yahdissabil.

Mengamalkan Manhaj Ahlussunah Wal Jama’ah

KH. Ruhiat sengaja memilih kampung Cipasung sebagai pesantrennya karena salah satunya adalah dimaksudkan untuk membendung dakwah Jamaah Ahmadiyyah yang didukung oleh Uwen Juansyah yang merupakan saudara kandung lain Ibu. Selain itu pula pemilihan tempat pesantren ini untuk mempersempit gerakan Wahhabiyyah yang setiap saat selalu mengajak berdebat.[2]

Mengamalkan dan Mengajarkan Madzhab Al-Asy’ari dan Madzhab Asy-Syafi’i

KH. Ruhiat ketika dalam pengejaran patroli Belanda, sempat-sempatnya membacakan kitab Safinah untuk fikih dan Sullam Taufiq untuk akhlak dan tauhid bagi santri-santrinya. [3] Setiap khataman kitab Jam’ul Jawami yang merupakan kitab Ushul Fikih Madzhab Asy-Syafi’i, KH. Ruhiat selalu merayakannya dengan menyembelih kambing dan berpose dengan berbusana “modern”. [4]

Mengajar Sebagai Tarekat

KH. Ruhiat konsisten memilih jalur pendidikan pesantren sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. Sikap istiqamah untuk mengajar ini dibuktikan pada saat aksi polisionil Belanda. Setiap saat, tanpa diduga, pasukan Belanda menyisir daerah Cipasung dan sekitarnya. Sehingga pengajian di pesantren menjadi terganggu. Dengan dibantu sejumlah santri dan warga, KH. Ruhiat tetap berusaha untuk mengajar santrinya. Pada saat patroli Belanda datang, KH. Ruhiat sudah berganti pakaian petani dan ikut turun ke sawah di Rancamaya, arah barat dari Cipasung. Setelah patroli berlalu, beliau bergegas membersihkan diri dan menuju saung. Sejumlah santri yang sudah menunggu segera mendekat, lalu beliau mengajar mereka. Beliau membacakan kitab Safinah untuk fiqh dan Sullam Taufiq untuk akhlak dan tauhid. Dengan demikian, sejak merintis pesantren tahun 1931, KH. Ruhiat tak pernah berhenti mengajar santri kecuali pada waktu beliau dipenjara atau sakit. [5] KH. Ruhiat jarang menerima undangan pengajian dari luar daerah pada malam hari, karena khawatir dapat meninggalkan hanca pengajian setelah subuh. Pernah suatu ketika ada undangan pengajian dari Karawang dan shahibul hajat keukeuh memaksa. Beliau kemudian menyaratkan agar sebelum jam empat pagi sudah diantar kembali ke Cipasung. Karena shahibul hajat menyanggupi, maka beliau pun menghadiri pengajian tersebut. [6] Dalam mengajar, KH. Ruhiat punya cara khusus untuk menarik minat santri-santri dan anak-anaknya agar rajin menghafal. Beliau menyediakan uang atau makanan bagi yang bisa menjawab pertanyaan dan menghafal pelajaran tanpa salah.[7] Salah satu dawuh beliau yang selalu diingat oleh para santri dan alumni adalah “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri.[8]

KH. Ruhiat Menerima Kunjungan Menko Kesra, KH. Dr. Idham Khalid Tahun 1964

Loyal kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia

Melihat kemajuan pesantren yang baru didirikan ini serta ketahanan aqidah dan jiwa patriotisme beliau dari pesantren mengundang kecurigaan Belanda sehingga beranggapan pesantren dapat mengancam kedudukan mereka. Terbukti dengan banyaknya ulama dan da’i yang ditangkap dan dipenjarakan. Hal ini juga dialami KH. Ruhiat, pada tanggal 17 November 1941 beserta KH. Zainal Mustafa ditahan di penjara Sukamiskin Bandung selama 53 hari. Selama beliau ditahan, tugas pengajian dijalankan oleh KH. Saeful Millah salah satu menantu beliau yang dibantu oleh Ajengan Abdul Jabbar.[9] Alasan penahanan ini karena pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah. Keduanya dinilai telah menghasut rakyat untuk bersikap anti penjajahan yang dianggap dapat mengganggu stabilitas.[10]  Hanya beberapa bulan beliau menghirup udara bebas, pada tanggal 6 Maret 1942 beliau ditangkap kembali bersama sepuluh Kiai lainnya oleh Belanda dan ditahan di penjara Ciamis. Namun seiring dengan menyerahnya Belanda kepada Jepang, pada tanggal 9 Maret 1942 beliau dan sepuluh Kiai lainnya dibebaskan lagi.[11]

Tidak sedikit gangguan dan rintangan yang menerpa beliau dalam tugas agama dan negara ini. Peristiwa yang menjadi bukti kebenarannya ialah ketika terjadi pemberontakan Sukamanah pada tahun 1944, yang dipimpin oleh KH. Zainal Mustafa; KH. Ruhiat serta Kiai-kiai lainnya, pada peristiwa tersebut KH. Ruhiat ditangkap dan dipenjara di Tasikmalaya selama 2 bulan. Pada masa tersebut, pengajian diwakilkan oleh KH. Saeful Millah dan KH. Bahrum.[12] Pemberontakan ini disebabkan oleh dua hal, yaitu kewajiban seikirei[13] dan kewajiban pengumpulan beras tiga kuintal perbulan oleh pemerintah Penjajah Jepang.[14]

Sebagai kiai yang berjuang untuk kemerdekaan, pada tahun 1945, setelah mendengar Proklamasi Kemerdekaan, KH. Ruhiat pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas Babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam. Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya.[15]

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak Darul Islam sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam Darul Islam. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu Darul Islam, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya.[16]

Delapan orang berusaha mengangkat dipan KH. Ruhiat, namun berkat lindungan Allah subhanahu wata’ala, dipan tersebut tidak bergeser sedikitpun. Karena gagal mengangkat tubuh beliau, pimpinan pasukan Darul Islam memaksa meminta cincin dan pena merk Parker milik beliau. Akibat kejadian tersebut, KH. Ruhiat menggerakan para Ajengan Jawara untuk melatih silat bagi para santri dan warga sekitar Cipasung. Diantara pelatih silat tersebut adalah Ajengan Mapruh dari Pesantren Gentur Rancapaku yang kelak menjadi besannya. Selama mengungsi yang hampir tiga tahun lamanya tersebut, pengajian di malam hari di ampu oleh KH. Moh Ilyas Ruhiat yang masih belia. Karena masih belia, KH. Moh. Ilyas Ruhiat tidak diperhitungkan oleh DI/TII.[17]

Meskipun Kolonial telah hengkang dari bumi pertiwi, namun situasi keamanan masih belumlah stabil terutama dengan datangnya kembali Belanda dengan agresi militernya yang ke II. Keadaan ini berpengaruh pula terhadap penyelenggaraan pendidikan Pondok Pesantren. Peristiwa yang mengerikan yang menimpa KH. Ruhiat pada tahun 1949 waktu beliau sedang melaksanakan shalat Ashar bersama tiga orang santrinya, Belanda berusaha membunuhnya dengan melepaskan tembakan ke arahnya, namun berkat pertolongan dan perlindungan Allah SWT, usaha ini gagal. Dua orang santrinya, yaitu Abdurrazzak dan Ma’mun gugur sebagai syuhada. Sedangkan Aen santri lainnya mengalami luka berat di kepala. Dua orang santri yang sedang ada di asrama pun terkena tembakan dan gugur sebagai syuhada, yaitu Abdul Alim dan Zenal Muttaqin.[18]

Setelah itu KH. Ruhiat ditangkap dan dipenjarakan di Tasikmalaya dan dipindahkan ke penjara Sukamiskin selama sembilan bulan. Ini membuktikan bahwa KH. Ruhiat seorang non-kooperatif sejati sehingga dibenci penjajah yang membonceng pasukan NICA.[19] Kegiatan pengajian diwakilkan oleh KH. Saeful Millah bersama KH. Moh. Ilyas Ruhiat sampai beliau dibebaskan pada tanggal 27 Desember 1949. Walau beraneka cobaan dan cerita pahit mengiringinya, beliau tetap sabar dan tawakkal kepada Allah SWT dalam perjuangannya, sehingga pesantren pun tidak hanyut oleh zaman apalagi karam diterpa gelombang. Malahan ini menjadi cambuk untuk pertumbuhan dan perkembangan Pondok Pesantren Cipasung ini. [20]

Aktif dalam Nahdlatul Ulama

KH. Ruhiat beserta KH. Zainal Mustafa Pesantren Sukamanah mengikuti gurunya yaitu KH. Muhammad Sobandi Pesantren Cilenga untuk masuk dan aktif dalam Organisasi Nahdlatul Ulama setelah Nahdlatul Ulama didirikan pada tanggal 31 Januari 1926. Pilihan ini bisa dirunut dari proses belajar KH. Muhammad Sobandi di Makkah di bawah asuhan Syaikh Mahfudz At-Tarmasi yang merupakan guru hampir semua pendiri Nahdlatul Ulama.[21] KH. Sobandi mendorong KH. Ruhiat sebagai muridnya untuk mengembangkan Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya dengan ikut serta pada Muktamar NU ke 5 di Pekalongan pada tahun 1930.Kehadiran KH. Ruhiat di Pekalongan dicermati betul oleh KH. A. Wachid Hasyim ayah dari Gusdur, terutama pada muktamar berikutnya; di Cirebon (1931), Bandung (1932) dan Jakarta (1933). Kepribadian KH. Ruhiat memenuhi harapan KH. A. Wachid Hasyim untuk mengembangkan Nahdlatul Ulama yang dapat mengimbangi gerakan modernisme. Mereka berdua memiliki kesamaan pandangan, salah satunya adalah terkait pakaian dan pembaharuan pengajaran pesantren. Setelah KH. A. Wachid Hasyim menjadi Menteri Agama pun, beliau sering mengunjungi Pesantren Cipasung untuk bertemu KH. Ruhiat.[22]

Pada tanggal 25 Februari 1944 bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, KH. Zainal Mustafa memimpin pemberontakan terhadap Jepang. Sebelum melakukan pemberontakan KH. Zainal Mustafa mengundurkan diri dari Nahdlatul Ulama, agar Nahdlatul Ulama tidak terseret oleh akibat dari pemberontakan ini.[23] Padahal Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut sebagai dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Akan tetapi Ajengan Sukamanah bertekad untuk melawan Jepang, keduanya sepakat tidak akan melibatkan Nahdlatul Ulama secara organisasi dan perjuangannya bersifat pribadi. Dengan kesepakatan ini, jika terjadi akibat buruk dari perlawanannya, KH. Ruhiat tetap bisa mengembangkan Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya dan Jawa Barat. [24] KH. Zaenal Mustafa berpesan kepada KH. Ruhiat: “Harus ada yang selamat. Ajengan Ruhiat, anda harus tetap bisa mengembangkan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat. Cipasung harus berkembang, mendidik masyarakat Sunda dengan ahlussunah wal jama’ah. Besarkan anakmu Ilyas.” Di saat yang bersamaan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari sempat dijebloskan juga ke penjara hingga pendengarannya rusak.[25]

Sekalipun mendukung sepenuhnya perjuangan Partai Nahdlatul Ulama, beliau tidak mau menjadi politisi yang berjuang di parlemen. [26] Namun beliau tetap aktif dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama. Hal ini dibuktikan oleh KH. Ruhiat lewat keterlibatannya dalam Nahdlatul Ulama sampai ke tingkat pusat. Beliau pernah menjadi A’wan Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 1954-1956 dan 1956-1959, serta perkembangan Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya dan Jawa Barat yang ditunjang oleh Keluarga Besar dan Alumni Pesantren Cipasung.[27]

Salah satu bentuk pembelaan yang kuat KH. Ruhiat terhadap NU yaitu pada saat NU dianggap antek komunis karena menerima Nasakom, beliau berpidato: “Kalau kita tidak menerima Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis), PKI (Partai Komunis Indonesia ) akan berkacak pinggang. Menerima Nasakom adalah siasat NU yang akan membuat PKI lupa daratan sehingga lupa akan bahayanya. Mereka merasa ada yang mendukung atas tujuan taktiknya, padahal secara diam-diam orang NU telah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Buktinya, ketika orang lain bingung saat PKI melakukan kudeta, orang NU sudah langsung bisa menetapkan bahwa itu gerakan PKI. Buktinya langsung tanpa ragu meminta pemerintah untuk membubarkan PKI. Alhamdulillah, oleh pemerintah Orba (Orde Baru) dapat dikabulkan, PKI dibubarkan.” [28]

KH. Ruhiat mewariskan dua ciri mandiri Pesantren Cipasung, yaitu ngalogat Sunda dan Nahdlatul Ulama. Kedua ciri itu menjadi penanda alumni Cipasung yang tersebar di wilayah Jawa Barat. Ngalogat di tangan KH. Ruhiat telah menjadi alat peneguh identitas kesundaaan.[29]

Meyakini Belajar Ilmu Pengetahuan Merupakan Kewajiban Beragama

KH. Ruhiat pernah berkata bahwa: “Setiap agama yang tidak bisa mengiringi laju peradaban, kesampingkan saja, sebab agama tersebut hanya akan merepotkan pemeluk agamanya. Agama yang haq adalah Islam. Dan al-Quran ialah kitab yang memuat persoalan: keagaaman, ilmu pengetahuan, sosial kemasyarakatan, pendidikan atau pengajaran, etika dan sejarah, (yang akan abadi) hingga kiamat.” [30]

KH. Ruhiat memelopori pendirian sekolah-sekolah umum, baik yang berafiliasi ke Depdikbud dan Depag; yaitu: Sekolah Pendidikan Islam (1949) yang pada taun 1953 berubah menjadi Sekolah Menengah Pertama Islam, Sekolah Rendah Islam (1953) yang berubah menjadi Madrasah Wajib Belajar dan kemudian menjadi Madrasah Ibtidaiyyah. [31] Sebab utama pendirian Sekolah Rendah Islam Cipasung ialah karena guru Sekolah Rendah Negeri Sukasenang selalu mendoktrin murid-muridnya untuk mengikuti paham komunisme. Seperti keharusan untuk menanggalkan kerudung dan memaksa murid untuk mengingkari adanya alam barzah dengan mencontoh pulpen dikubur, ketika digali pulpen masih tetap ada. Padahal anak-anak KH. Ruhiat, yaitu Yusuf Amin dan Dudung Abd. Halim bersekolah di Sekolah Negeri Sukasenang.[32] Pada tahun 1959 didirikan Sekolah Menengah Atas Islam, lalu Fakultas Tarbiyyah Pendidikan Tinggi Islam Cipasung (1965) kemudian berubah menjadi IAIC, Sekolah Persiapan IAIN Sunan Gunung Djati Cabang Cipasung (1969) dan Fakultas Ushuludin Filial Cipasung (1970) yang hanya berlangsung dua tahun. Untuk pendirian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, Cipasung menjadi perintis di Jawa Barat, mendahului pendirian UIN SGD Bandung yang baru dimulai tahun 1968.[33]

KH. Ruhiat termasuk pribadi yang terbuka atas segala perkembangan informasi dakam berbagai bidang. Selain kitab kuning, koleksi bukunya mencakup bidang politik, ekonomi, dan tata negara. Beliau menganggap agama Islam sebagai ajaran yang dinamis yang selalu harus bisa menjawab tantangan zaman. Beliau kerap mengutip pendapat al-Mustarwalidz al-Katib al-Injily al-Kabir yang terdapat dalam Tafsir al-Jawahir karya Syaikh Thanthawi Jauhary. [34]


Penutup

Dari penjelasan di atas kita bisa mengambil intisarinya; yaitu:

  1. KH. Ruhiat mengamalkan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam kehidupan sehari-harinya, juga mengajarkannya kepada keluarganya, bahkan selalu berusaha membela dan menegakan manhaj Ahlussunah wal Jama’ah.
  2. KH. Ruhiat dalam kesehariannya mengamalkan dan mengajarkan Madzhab Al-Asy’ari dalam teologi (akidah) dan Madzhab Asy-Syafi’i dalam jurisprudensi (fikih). Bahkan beliau aktif menulis dalam buletin Mawaidz NU Kab. Tasikmalaya untuk memperjuangkan kedua madzhab tersebut.
  3. KH. Ruhiat menganggap bahwa mengajar merupakan tarekat beliau, dengan begitu beliau berpendapat bahawa mengajar merupakan cara utama dalam mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu hendaknya santri dan alumni bisa menjadi pengajar dimanapun mereka berada dan bekerja.
  4. KH. Ruhiat sangat loyal dengan NKRI, dibuktikan beliau aktif ikut berjuang dalam menuntut kemerdekaan, berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan, menolak upaya penggulingan kekuasaan secara tidak sah, dan selalu menganjurkan untuk berperan aktif dalam mengisi kemerdekaan.
  5. KH. Ruhiat selalu aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama, mulai dari masa mudanya sampai akhir hayatnya. Jabatan terakhir beliau di Nahdlatul Ulama adalah A’wan Syuriah PBNU. Bahkan pada saat Nahdlatul Ulama dituduh sebagai antek komunis pada zaman Nasakom, beliau tetap membela Nahdlatul Ulama.
  6. KH. Ruhiat meyakini bahwa dengan ilmu pengetahuan, Islam akan maju. Agama harus sejalan dengan ilmu pengetahuan agar bisa mencapai peradaban yang maju. Beliau mendirikan berbagai macam sekolah formal untuk merealisasikan keyakinannya. Anak-anak beliau dianjurkan untuk bersekolah formal agar memiliki ilmu pengetahuan.

Maka bisa disimpulkan, bahwa Ideologi Pasantren Cipasung adalah:

Sunni, Asy’ari, Syafi’i, Mu’allimi (Pengajar),

Qaumi (Nasionalis), Nahdli, ‘Ulumi (Saintis)[35]

سني، أشعري، شافعي، معلمي، قومي، نهضي، علومي

Wallahu a’lam bishshawab

KH. Muhammad Rizqi Romdhon, Wakil Katib Syuriah PCNU Kab. Tasikmalaya Cucu dari alm. KH. Ruhiat

[1] Cucu alm. KH. Ruhiat anu pangbengalna.

[2] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung Biografi KH. Moh. Ilyas Ruhiat, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006), hal. 25.

[3] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 30.

[4] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 31.

[5] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 30.

[6] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 34.

[7] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 42.

[8] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 30.

[9] Tim Penyusun, Tadzkirat Buku Panduan Mukimin Mukimat Pondok Pesantren Cipasung, (Tasikmalaya: Pondok Pesantren Cipasung, 2018), hal. 1-2.

[10] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 29.

[11] Tim Penyusun, Tadzkirat…, hal. 2.

[12] Tim Penyusun, Tadzkirat…, hal. 2.

[13]  Seikirei adalah upacara penghormatan pada Kaisar Jepang yang dianggap sebagai keturunan Dewa Amaterasu Raja Matahari yang tinggal di Gunung Fujiyama. Upacara ini dilaksanakan pada pagi hari dengan membungkuk pada Matahari terbit. (http://ensiklo.com/2014/10/16/seikerei-adalah-penghormatan-dengan-cara-membungkukkan-badan-mengarah-matahari-terbit/).

[14] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 16.

[15]  Abdullah Alawi, Abah Ruhiat Pendidik dan Pejuang dari Cipasung, http://www.nu.or.id/post/read/71200/abah-ruhiat-pendidik-dan-pejuang-dari-cipasung-, diakses tanggal 13 Oktober 2018, jam 13:45 WIB.

[16]  Abdullah Alawi, Abah Ruhiat…, diakses tanggal 13 Oktober 2018, jam 13:45 WIB.

[17] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 28-29.

[18] Tim Penyusun, Tadzkirat…, hal. 2.

[19] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 28-29.

[20] Tim Penyusun, Tadzkirat…, hal. 2.

[21] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 16.

[22] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 27-28.

[23] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 16.

[24] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 29.

[25] @MuktamarNU, Sejarah Singkat KH. Ruhiat dan Pesantren Cipasung, https://chirpstory.com/li/257539?page=2, diakses tanggal 13 Oktober 2013, jam 15:31 WIB.

[26] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 31.

[27] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 29.

[28] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 33.

[29] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 31.

[30] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 32.

[31] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 32.

[32] Wawancara dengan Papat Fatimah binti KH. Abbas Nawawi, besan KH. Ruhiat sekaligus putri guru beliau.

[33] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 32.

[34] Iip D. Yahya, Ajengan Cipasung…, hal. 32-33.

[35] Penjelasan yang lebih detail akan kami tulis secara panjang lebar pada buku kami yang berjudul “Miftahul Ma`il Mukabbal: Ideologi Cipasung”.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: