Kementerian Agama Gandeng LKKNU Kabupaten Tasikmalaya dalam Membangun Keluarga Sakinah Mulai dari Bimbingan Calon Pengantin

Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya menyelenggarakan bimbingan calon pengantin bagi 10 pasangan yang berada di wilayah Kecamatan Jamanis, Rajapolah dan Cisayong.

Kegaitan ini dilaksanakan selama dua hari, yakni pada hari Kamis- Jum’at, 21-22 Oktober 2021 dengan fasilitator dari LKK PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Puskesmas, dan Kementerian Agama.

Dalam kegiatan ini peserta diajak untuk melakukan rencana yang akan dilakukan setelah berumah tangga, menganalisa sifat, sikap dan materi yang menunjang bahagia dan sifat, sikap serta materi yang menghambat kebahagiaan.

Ketua LKK PCNU Kabupaten Tasikmalaya selaku fasilitator bimbingan calon pengantin menyampaikan bahwa perkawinan harus berpijak pada lima prinsip perkawinan. Lima prinsip perkawinan ini kemudian dihafalkan oleh peserta melalui nyanyian yang dipandu panitia.

Lima prinsip tersebut adalah berpasangan, janji yang kokoh, saling ridha, muasyarah bil ma’ruf dan musyawarah dalam membina bahtera rumah tangga.

Kebahagiaan dalam rumah tangga adalah harapan bagi setiap pasangan. Oleh karena itu harus ada mawadah dan rahmah untuk mewujudkan sakinah.

Mawaddah sebagaimana di gambarkan narasumber bahwa seseorang mencintai dan menikahi pasangannya untuk kebahagiaan dirinya, sedangkan rahmah digambarkan narasumber bahwa pasangannya mencintai dan menikahi pasangannya karena ingin membahagiakan pasangannya. Maka jika ada proses timbal balik antara pasangan akan mewujudkan keluarga sakinah.

Membangun relasi dalam bingkai rumah tangga harus terjadi sebagai relasi kemitraan karena penghambaan hanya kepada Allah. Tidak ada dalam anggota keluarga yang derajatnya lebih tinggi. Semua saling berkomunikasi dalam pemecahan masalah.

Suami adalah tempat belajar bagi istri dan anak-anak dan Istri adalah tempat belajar bagi suami dan anak-anak. Maka, dalam pemecahan masalah dalam keluarga tidak boleh ada yang merasa paling tahu dan paling benar, semuanya harus berlandaskan musyawarah.

Bimbingan Calon pengantin ini sebagaimana disampaikan penyuluh agama KUA Jamanis sebagai fasilitator bimbingan calon pengantin dilakukan untuk mewujudkan keluarga sakinah sehingga tidak akan ada pasangan yang mudah untuk melakukan talak.

Hari kedua, peserta diajak untuk memahami kesehatan reproduksi agar masing-masing pasangan siap organ reproduksinya untuk melahirkan generasi yang berkualitas.

Menurut Dr. Sri Nurhayati, sebagai Narasumber kegiatan ini, masing-masing pasangan harus memperhatikan kesehatan reproduksi agar lahir generasi yang sehat serta terhindar dari penyakit kelamin yang menular.

Banyak sekali persoalan yang terjadi akibat dari seks bebas dan ketidakpahaman kesehatan reproduksi, papar Dr. Sri yang sudah banyak menangani kasus per kasus pasien. Ada banyak pasien yang berprilaku seks bebas sehingga pada akhirnya merugikan dirinya dan merugikan pasangannya.

Dr. Sri Nurhayati, dari Puskesmas Jamanis ini berpesan kepada para calon pengantin untuk merencanakan kehamilan baik dari kebutuhan bilogisnya maupun mentalnya agar tidak menyesal kemudian. Karena beliau pernah menemukan anak-anak yang cacat lahir akibat kekurangan zat besi dan asam polat dan akibat usia ibu hamil belum matang organ reproduksinya.

Pengelolaan kebutuhan dalam bingkai rumah tangga kemudian juga dipaparkan oleh Mia Faiza Imran sebagai Fasilitator dari LKKNU. Proses hubungan suami istri berawal dari dua individu yang berbeda kebutuhannya. Jika tidak baik dalam pengelolaannya, masing-masing pasangan akan saling tarik menarik untuk memenuhi kebutuhan masing-masing tanpa mempertimbangkan kebutuhan pasangannya.

Kembali pada prinsip perkawinan harus ada kesalingan. Kesalingan inilah menjadi prinsip dalam memenuhi kebutuhan pribadi dan kebutuhan pasangannya. Sehingga, kebutuhan apapun dipenuhi dengan cara-cara yang baik dan dengan proses musyawarah.***

Pewarta : Nia Ramdaniati

Editor : Anbiyani

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: